Senin, 17 September 2012

Jalak Putih Sukses Ditangkar


Jalak putih bukan termasuk burung kicauan biasa, yang bisa dipelihara sembarang orang. Sebagaimana jalak bali, ia juga mendapat perlakuan istimewa dari negara. Keberadaan burung ini dilindungi oleh undang-undang nasional dan internasional, sebab populasinya makin menipis, bahkan nyaris tidak berkembang biak di habitat aslinya. Untuk menangkar jalak putih jelas bukan urusan sepele.

Populasi jalak putih makin menipis, karena terus diburu para kicau mania untuk dijadikan master bagi burung-burung lomba. Tipe suaranya cenderung nyrecet dan kasar-kasar. Sayang, sampai saat ini belum banyak orang yang membidik usaha penangkaran (breeding), sehingga penangkapan di alam bebas masih berlangsung.

Padahal usaha penangkaran bisa menjadi lahan bisnis yang prospektif. Nilai komersialnya lebih tinggi daripada jalak suren.Memang, tak mudah untuk menangkar burung ini. Proses perjodohannya membutuhkan waktu paling cepat tiga minggu. Meski sudah berjodoh, terkadang jalak putih enggan kawin.

Kegagalan itu disebabkan birahi kedua induk belum cukup matang. Kecenderungan betina yang lebih agresif tak direspon dengan baik oleh pejantan, sehingga betina lebih memegang kendali. Akibatnya, pejantan tidak bisa berbuat banyak untuk membuahi telurnya.Faktor usia juga berpengaruh dalam proses perkawinan. Idealnya, pejantan berumur dua tahun dan betina satu tahun. Saat itulah, kedua induk sudah memiliki kematangan birahi.

Faktor Pakan


Untuk memacu produktivitas, faktor pakan perlu diperhatikan. Peranan pakan sangat penting sebagai penyeimbang metabolisme dalam tubuh. Kroto dan jangkrik harus tercukupi selama proses produksi.Setiap induk membutuhkan sekitar 20 ekor jangkrik/hari, yang diberikan dua kali sehari. 


Apabila sejak dini dibiasakan mengkonsumsi kroto, maka sehari bisa diberikan empat sendok makan (siang hari). Tambahkan pisang untuk membantu memperlancar metabolisme pencernaan.Penyesuaian lingkungan di luar dan dalam kandang juga berpengaruh. Sediakan kandang permanen yang nyaman dan aman bagi burung. Kehadiran orang dalam kandang di masa subur burung bahkan bisa menghambat produktivitas indukan.

Untuk menyiasatinya, buatlah kandang bersekat dan mudah dijangkau. Kandang bersekat ini memiliki ukuran 30 x 20 x 25 cm3, di mana bagian atas tertutup. Sedangkan bagian bawah terbuka, berfungsi sebagai pintu indukan.Kandang yang terisolasi lebih dianjurkan, karena bisa memberi rasa nyaman kepada indukan selama proses pengeraman hingga penetasan telur. Apabila sarang terbuka dan aktivitas di dalam kandang mudah terpantau, maka tingkat kegagalannya makin tinggi.

Sebaiknya setiap 10 periode peneluran, posisi kandang diubah ke sisi lain, agar induk tetap bertelur dan kelangsungan hidup piyik tidak terancam.Jika posisinya sama, telur kerap dirusak atau dibuang induknya. Ini-lah yang selama ini jadi penyebab terbesar kegagalan penangkaran jalak putih. 

Memilih Perkutut


Membeli perkutut memang tidak seperti membeli jenis burung lainnya. Dalam memilih perkutut, selain perlu ketelatenan juga butuh kejelian agar tidak kecewa di kemudian hari. Sebelum membeli perkutut ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan. Pertama, kalau bakalan tersebut untuk konkurs, jelas harus jantan.


Kemudian, karena bakalan perkutut tersebut diidentikkan dengan piyik, sedangkan kriteria piyik dalam perkutut sendiri dikategorikan mulai burung baru menetas sampai berumur lima bulan, maka untuk membeli bakalan di masing-masing umur diperlukan pengetahuan dan perhatian sendiri-sendiri. Jadi, dalam membeli bakalan perkutut kita bisa membeli piyik mulai yang baru menetas (berumur beberapa hari) sampai burung mulai menampakkan suara aslinya ketika burung berumur lima bulan.

Para pembeli perkutut, baik untuk didengar suaranya maupun untuk lomba, pasti memilih perkutut jantan. Perkutut jantan mempunyai suara nyaring, tekanan bas pada suaranya besar, dan power-nya besar sehingga kalau berbunyi akan terdengar lantang dan stabil. Bagi penggemar perkutut yang masih baru dan awam tentang perkutut, agak sulit untuk membedakan antara perkutut jantan dan betina. Apalagi kalau membelinya masih dalam tahap bakalan.

Untuk membedakan perkutut jantan dan betina, bisa dilakukan dengan melihat supit (tulang di bawah dubur). Kalau supit tersebut rapat atau hampir bersentuhan, bisa dipastikan jantan. Sebaliknya kalau jarak tulang supit tersebut lebar (sekitar 1 cm atau seukuran jari tangan), berarti betina. 


Cara ini baru bisa digunakan setelah piyik menginjak umur empat bulan. Sebelum umur empat bulan supit pada piyik jantan relatif renggang sehingga penggemar perkutut yang awam akan kesulitan menentukan bakalan jantan dengan cara ini.

Setelah bakalan berumur empat bulan, apalagi kalau sudah di atas enam bulan, secara alami supit jantan akan menyempit sehinga mudah membedakannya dengan yang betina. Selain itu perkutut jantan yang sudah menjelang dewasa juga bisa diketahui dari bentuk bola mata, bentuk kepala, bentuk fisik dan suara. Bola mata perkutut jantan tampak lebih menonjol denga sorot mata yang tajam, sedangkan yang betina tampak sayu dengan sorot mata lemah. 


Kepala perkutut jantan berukuran lebih besar dan agak bulat, sedangkan yang betina lebih kecil dan agak lonjong. Ukuran fisik tubuh juga demikian, yang jantan biasanya lebih besar dibandingkan dengan yang betina. suara juga demikian, suara perkutut jantan lebih keras dibandingkan yang betina.

Jumat, 14 September 2012

Ibis Karau ( Pseudibis davisoni


Suatu hari di tengah rimba belantara Kalimantan Timur, di tepian Sungai Mahakam yang berwarna coklat, ada bebauan hutan yang menemani ritual minum kopi di sore hari. Teropong itu masih basah oleh keringat, tergolek molek di samping, tidak lagi menggelayut manja di leher dan bersandar di dada yang sekarang terbuka tak lagi berbaju.


Bayangan hitam besar itu muncul entah dari mana, menjejak bumi tanpa suara di tekukan sungai seberang. Teropong itu sekarang sudah melekat kencang di mata, entah bagaimana nasib cangkir kopi yang masih penuh tadi. Mahluk hitam tadi, burung, Ibis karau, Pseudibis davisoni, Ibis paling langka di dunia. Dia lelaki yang beruntung.

Halaaah, itu pembukaan kok ndak saya banget yak?! Saya itu sedang berusaha menggambarkan suasana indah yang muncul karena berjumpa mahluk super langka. Lha kok suasananya? bukan mahluknya yang diindah-indahkan. Itulah soalnya, mahluk yang bernama Ibis karau ini buat banyak orang ndak indah dipandang mata, ndak bisa bikin jatuh cinta pada pandangan pertama seperti kalau melihat merak yang sedang ngibing dahsyat dipacu birahi itu. 


Coba saja lihat morfologinya, paruhnya panjang bengkok ke bawah, kepalanya yang kecil itu  "gundul" tapi ya kegundulannya itu tak mencegahnya untuk tetap mengenakan bando berwarna terang. Tubuhnya? seperti tak seimbang dan kaki-kakinya  kurang jenjang. Tubuh didominasi warna gelap dengan seleret putih pada bagian bahunya yang lantas dijadikan nama burung ini dalam Bahasa Inggris, White-shouldered Ibis. Tengok juga gaya berjalannya, halah ... sudahlah.

Ketidak indahan itu mungkin menjadi salah satu sebab kenapa dia tak terperhatikan, tidak sebagaimana elang yang gagah atau cendrawasih yang molek. Walaupun Ibis karau saat ini menyandang status keterancaman tertinggi, Kritis (Critically Endangered), tak banyak yang perduli atau bahkan kenal dengannya. 



Dahulunya burung ini terdapat di Cina bagian selatan, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia dan Indonesia (Kalimantan). Bebas berkeliaran di hutan-hutan dan di rawa-rawa Saat ini dia hanya bisa dijumpai di Vietnam bagian selatan, Laos bagian selatan, di utara Kamboja dan di Indonesia di Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan. Jumlah yang tersisa juga tidak lagi banyak.

Kenapa pula dia lantas menghilang? Ada beberapa hal yang dituding jadi penyebabnya, dan biangnya ya manusia lagi. Hutan dan rawa yang jadi rumah sang Ibis diutak-atik sak enak udel. Hutannya dibabati dan rawanya dikeringkan, mungkin mikirnya kalau semua hutan dan rawa itu ya punya'nya sendiri, mahluk lain cuma ngontrak, akibatnya banyak korban termasuk si Ibis ini. Sang Ibis lantas mencoba bertahan dengan mengikuti perubahan jaman, mereka mulai sering terlihat di lahan-lahan persawahan manusia yang dulunya rawa rumah mereka. 


Tapi ya ndak aman juga, mereka diuber-uber, diganggu, dan dibunuh (katanya dagingnya layak santap). Padahal kalau dia dibiarkan saja di sawah ya juga bisa bantu-bantu mengurangi hama dan gulma lho. Makanannya Ibis ini serangga dan biji-bijian rumput. Mungkin karena ada yang ndak nyambung, sawahnya lantas disemproti racun pembunuh serangga, habis jugalah makanan Ibis di sawah.



Rupa tidak indah, tubuh tak simetris, jalannya tidak anggun, klayaban di tempat-tempat becek, holoh holoh, kok ya ndak ada indah-indahnya sih? Tambahan lagi, burung ini tak muncul dalam hikayat tua, tak sebagaimana saudara jauhnya Sacred Ibis dari Mesir yang lantas diidentikan dengan dewa agung bangsa Mesir kuno, Toth. Mitologi kuno menceritakan bagaimana Toth merubah 360 hari dalam setahun menjadi 365 hari setelah dia menang berjudi dengan bulan dan mendapatkan 5 hari tambahan dalam setahun. Lantas, apakah Ibis karau juga harus berjudi dengan manusia untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tetap hadir di bumi. 


Tak usahlah rasanya dia dipaksa harus berjudi untuk hidupnya dan tak usah jugalah dia lantas dipaksa menjadi cantik agar dapat sekedar lirikan. Jika kita belum kikir perhatian tengoklah kembali Ibis yang satu ini, mungkin kita saja yang belum bisa menangkap keindahannya itu.

Kamis, 13 September 2012

Kowak Jepang ( Gorsachius goisagi )


Kowak Jepang adalah spesies bangau malam ditemukan di Asia Timur. Ini berkembang biak di Jepang, dan musim dingin di Filipina dan Indonesia. Hal ini juga terlihat pada musim semi dan musim panas di Korea dan Rusia Timur Jauh.


Rabu, 12 September 2012

Mandar Gendang ( Habroptila wallacii )


Burung mandar gendang berukuran panjang antara 33-40 cm. Burung jantan dan betina mempunyai bulu yang serupa yakni abu-abu gelap dengan sayap dan ekor berwarna coklat gelap. Bagian kulit yang tidak berbulu berwarna merah. Sedangkan kulit pada kaki berwarna oranye kemerahan.


Masih sedikit yang diketahui tentang perilaku hidup burung endemik Halmahera ini. Makanan mandar gendang umumnya adalah pucuk tanaman, serangga, dan sagu dari batang sagu yang terbuka. Suara kicauan burung ini seperti bunyi gendang dengan diselingi jeritan keras.
Habitat, Penyebaran, Populasi, dan Konservasi. Sebagai hewan endemik Halmahera, burung mandar gendang hanya bisa dijumpai di pulau Halmahera, Maluku Utara. Habitatnya adalah di daerah lahan basah, semak belukar disekitar rawa, dan lahan gambut dengan ketinggian hingga 700 meter dpl.
Populasi mandar gendang  tidak diketahui pasti. BirdLife Internasional memperkirakan populasinya berkisar antara 2.500 – 9.999 ekor burung dewasa (2000) dengan tren populasi yang terus mengalami penurunan. Penurunan populasi ini diakibatkan oleh hilangnya habitat, deforestasi, dan aktifitas pemanenan sagu secara komersial oleh penduduk.
Karena tingkat populasi, daerah sebaran, dan ancaman yang ada, IUCN Redlistmemasukkan burung mandar gendang  dalam status konservasi vulnerable sejak tahun 1994. Yang patut disayangkan, meskipun termasuk salah satu burung langka, ternyata burung endemik Si Penabuh Gendang ini belum termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi di Indonesia.

Selasa, 11 September 2012

Trinil nordmann ( Tringa guttifer )

Bayangkan satu jenis burung yang daerah sebarannya begitu luas. Berkembang biak di hutan-hutan pantai Russia bagian Timur dan pada saat daerah itu dilanda musim dingin mereka berpindah ke Selatan melintasi negara-negara Korea Utara, Korea Selatan, Jepang, Cina, Taiwan, India, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Kamboja, Viet Nam, Philippina, Malaysia dan Indonesia. Jauh juga klayabannya burung satu ini. Lautan, gunung, lembah semua dilalui. Luar biasa untuk burung berukuran sedang-sedang saja (30-an cm).



Trinil nordmann (Tringa guttifer) adalah bintang minggu ini. Tidak ada yang istimewa dari penampilan luarnya, kakinya kuning dan panjang, paruhnya juga begitu, sementara warna tubuhnya nyaris tidak ada “istimewanya”. Hanya saja, burung biasa-biasa saja ini menyimpan tenaga begitu besar sehingga dia mampu terbang ke banyak tempat yang jauh dari tempatnya berkembang biak.
Di Indonesia keberadaan jenis ini masih sangat sedikit diketahui. Ada beberapa catatan perjumpaan dari Pantai Timur Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Buton dan yang terbaru dari Jawa, hanya satu ekor saja. Tidak sebagaimana penemuan jenis-jenis hewan langka lainnya, penemuan jenis burung ini di Jawa dilakukan oleh anak-anak muda Indonesia. 
Lokasinya di delta Sungai Progo, Pantai Trisik, Yogjakarta pada tanggal 1 Desember 2006 yang lalu. Lantas, apakah penemuan sebesar ini banyak diketahui umum? Ya tidak juga, siapa yang tertarik ngomong dengan peneliti bukan selebritis begini. Saya sendiri hanya merayakan penemuan ini dengan jingkrak-jingkrak sendirian.
Apa istimewanya burung kecil ndak bagus ini? Jumlahnya sangat sedikit, dimasukkan dalam daftar jenis burung terancam punah dengan status Genting ( Endangered ). Selain itu, kelakuan burung ini di luar daerahnya berkembang biak sangat sedikit diketahui. Menemukan burung ini di luar daerah berkembang biaknya adalah hal yang sangat istimewa.
Apa pasal mereka terancam punah. Klasik saja, tempat hidupnya diutak-atik manusia. Pengembangan wilayah pantai yang serampangan menyebabkan burung ini kehilangan tempat mangkalnya. Hal ini tejadi di mana-mana. Belum lagi masalah perburuan dengan menggunakan anjing, para penggembala Rusa kutub dan turis yang terjadi di Russia sana. Selain itu, burung ini juga memiliki musuh alami, burung gagak.

Senin, 10 September 2012

‘Akohekohe ( Palmeria dolei )


‘Akohekohe ( Palmeria dolei ) adalah spesies burung finch yang masuk dalam famili Fringillidae. Spesies ini adalah spesies yang endemik terhadap Hawaii. Habitat spesies ini adalah montane tropis atau subtropis. Spesies ini kini mendapat status kritis akibat dari kehilangan habitatnya.



Burung indah dengan warna yang burik-burik ini, serta dengan jambulnya yang lucu juga merupakan burung yang terhitung sudah jarang ditemui, Nah kawan,...Mari kita jaga ekosistem kita dengan tidak memburu binatang-binatang liar terutama burung, karena rugi kan kalau nanti-nanti kita tidak bisa menikmati alam kita yang indah ini,...